DIARY KU TENTANG POLITIK

Tidak hanya sekali ini saja Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Marzuki Alie tampil buruk saat memimpin sidang. Karena itu, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yushoyono (SBY) harus mempertimbangkan penggantian posisi Marzuki.-Syamsuddin Haris-LIPI; detikcom

Sesuai dengan agenda yang telah ditetapkan Bamus DPR, maka hari ini kembali para anggota DPR bakal menggelar Sidang Paripurna guna menetapkan keputusan terkait kasus bail-out dana Bank Century. Sidang Paripurna DPR di hari yang ke dua ini, sesungguhnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sidang paripurna kemarin yang sangat jauh dari apa yang diharapkan. Aura Sidang yang seharus nya mampu membangun karakter anggota DPR selaku wakil rakyat terhormat, tampak menjadi pertemuan sekelompok “anak kecil” yang sedang melakukan acara “petak umpet” di siang bolong.

Bayangkan, seorang Ketua Sidang terpaksa harus di evakuasi oleh satuan pengamanan DPR karena di protes para peserta sidang atas keputusan nya sendiri menghentikan sidang secara mendadak. Padahal yang nama nya Pimpinan DPR itu memiliki prinsip kolektif dan kolegial. Dalam kalimat santai nya “one for five dan five for one”. Sayang, apakah sikap yang dilakukan Marzuki Alie sebagai Ketua DPR kemarin itu dapat kita sebut sebagai “sikap tegas” atau “sikap otoriter” atau “sikap arogansi” atau “sikap kekalutan”, tentu nya masih debatibel dan tergantung dari sisi mana kita memandangnya.

Yang pasti, menurut keterangan salah seorang Wakil Ketua DPR Pramono Anung sendiri, ternyata keputusan yang diambil oleh Ketua Sidang, jelas sebuah inisiatif pribadi seorang Marzuki Alie dan tidak pernah meminta pandangan dari 4 orang Wakil Ketua yang saat itu mendampingi Ketua dan duduk berderet di meja pimpinan sidang paripurna.

Yang menggelikan adalah muncul nya sikap dan tindakan dari beberapa wakil rakyat yang seolah-olah “kesurupan” dan berusaha mengekspresikan kekesalah nya, karena merasa tidak puas atas tindakan penghentian sidang secara mendadak. Berhamburan nya anggota ke meja pimpinan, boleh jadi hal itu merupakan suatu bukti bahwa untuk memimpin sidang sekaliber Paripurna DPR, memang tidak cukup hanya dengan membaca intruksi diselembar kertas, yang sudah disiapkan oleh Sekretariat DPR saja, namun di balik itu ada yang lebih penting untuk dikuasai.

Salah satu nya adalah penting tumbuh keyakinan bahwa sidang paripurna DPR adalah forum tertinggi dari DPR guna menghasilkan putusan-putusan politik. Itulah sebab nya mengapa seorang Ketua Sidang mesti seorang yang piawai dan memiliki jam terbang yang cukup tinggi. Sikap Marzuki Alie, mungkin benar tapi belum tentu baik. Beberapa pembela dan pendukung nya menyatakan bahwa sikap itu menunjukkan ketegasan guna mengamankan tata tertib DPR dan komitmen yang telah disepakati selama ini. Tapi beberapa kalangan yang memprotes nya malah menyatakan bahwa sikap yang ditempuh Marzuki Alie adalah sebuah arogansi seorang Ketua Sidang yang kesan nya tidak mau mengandung resiko.

Terlepas dari apa dan bagaimana sesungguhnya argumentasi yang mereka miliki, namun masing-masing pihak tersebut dapat saja berbeda dan tidak bakal menemukan titik temu. Yang pasti perjalanan sidang paripurna DPR mempertegas sinyalemen politik Gus Dur (Alm) yang pernah menyatakan bahwa para anggota DPR di negeri ini ibarat “siswa taman kanak-kanak”. Setujukah ?

Indonesia memang bukan Korea Selatan. Bukan pula Jepang atau Nigeria maupun Taiwan. Kalau di negara-negara sahabat kita sering disuguhkan atraksi tinju-tinjuan diantara para anggota parlemen nya atau jambak menjambak diantara anggota parlemen perempuan nya, maka di dalam negeri yang memiliki dasar negara Pancasila, mesti nya kita tidak patut bercermin kepada yang mereka lakukan.

Kita adalah bangsa yang berbudaya, beradab dan memiliki nilai budaya “silih asah, asih dan asuh”. Berbeda pandangan tidak diharamkan, tapi perbedaan itu harus dijadikan hikmah dan tidak perlu dipertajam atau dipertentangkan. Mereka yang terpilih menjadi wakil rakyat sejumlah 560 orang ini adalah anak bangsa pilihan yang diharapkan mampu menyuarakan nurani rakyatnya dalam mengambil putusan politik di bidang legislasi, anggaran dan control. Tiga fungsi inilah yang seharusnya menjiwai setiap wakil rakyat dalam melakukan kiprah politik nya.

Artinya, sungguh memalukan jika apa yang diatraksikan para wakil rakyat kemarin itu ternyata masih belum sesuai dengan apa yang didambakan. Opini yang memvonis bahwa wakil rakyat di era reformasi mesti “tampil beda” dengan era-era sebelum nya, tentu nya patut kita hormati. Beda tentu bukan hanya sekedar beda, tapi ada yang lebih esensial dan harus merasuk dalam setiap jiwa dan nurani para anggota DPR. Diantara nya adalah para wakil rakyat di masa kini, mesti lebih dewasa, matang, profesional, cerdas, piawai dan merakyat.

Pertanyaan nya adalah bagaimana fakta nya dengan contoh sidang paripurna yang kemarin ? Jawaban nya tegas : para wakil rakyat kita masih “childness” dan seperti terserang “autism syndrome”. Sikap yang berlomba untuk bicara alias ramai-ramai mengumbar kata intrupsi adalah bukti lemah nya semangat tenggang rasa diantara sesama anggota DPR. Perilaku saling kejar atau berlarian di ruang sidang, bahkan sedikit tohok menohok menunjukkan kesan bahwa para wakil rakyat masih mengedepankan kehendak pribadi atau golongan ketimbang “suara rakyat” nya sendiri. Dan muncul nya rasa kesal dan kecewa dari anggota atas kepemimpinan Ketua Sidang Paripurna DPR yang nota bene adalah Ketua DPR, secara tidak langsung memberi gambaran bahwa memimpin sidang di DPR janganlah disamakan dengan memimpin sebuah perusahaan. Disamping membutuhkan ketegasan tapi juga perlu “memuaskan” apa yang menjadi aspirasi para anggota nya.

Disini perlu nya dialog yang inter-aktif, berkualitas dan menghargai perbedaan. Sayang, peluang yang demikian “ditutup” rapat-rapat karena ada diantara para wakil rakyat yang memang tidak mau melepaskan “kaca mata” kuda nya.

Mudah-mudahan dalam sidang paripurna DPR hari berikutnya, suasana nya akan berbeda dan keputusan politik yang akan diambil nya juga mampu memberi kemuliaan dan keberkahan hidup bagi kita bersama.

Selamat bersidang wahai wakil rakyat yang terhormat !

Salam,

ref: dewaklasik.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s